Pages

10/26/15

Yang terhotmat, Telur mulia.

Ketika siangmu berganti malam,
Dan suara suara penyeru perut yang lapar Kau kumandangkan,
Maka biarkan hambamu ini memenuhi panggilanMu...

Dzikir padamu dimulai dari bulir beras yang mengeras,
Lalu ku cuci dengan air Mu yang mulia.

Setelah menunggu,
Demi waktu di antara berubahnya warna lampu di magic jar,
Dengan khusuk hambamu ini melafadzkan asma', hizib, wirid, dan sholawat sholawat yang mana dikerjain oleh setiap apa yang kusentuh.

Kumasuk kamar mandi,
Gagang Pintu yang kupegang mulai bersholawat,
Ku tanggalkan baju dan kusampirkan ke centhelan, lalu ia mendendangkan hizib,
Ku langkahkan kakiku menginjak closet, dan ia memuji asma'Mu...

Sungguh alunan yang harmony...
Seketika kuluncurkan hasil sisa sisa olah makanan yang Kau anugerahkan pada hamba, saat itu pula taek taek pun berwirid mengagungkan kebesaran dan kuasamu...

Ooo... wahai air... kubasuh sekujur tubuh dengan gerakan bervariasi...

Kesegaran air yang sedang bersholawat mengantarkan kemurnian hakekat inti semesta,
Ia menyejukkan...
Bukan menghanguskan...

Sesudah semuanya berlalu ritual sembah raga via air,

Hamba putuskan menengok lampu magic jar, apakah beliau sudah mengisyaratkan untuk boleh di kunyah secara pantas?

Ahirnya, hamba mengolah karya agung peradaban ayam,
Ya.
Yang terhormat, Telur yang mulia.
Ijinkan hamba memoles dan memperindah hakekat ada nya dirimu, yaitu menemani nasi dalam menunaikan tugasnya tatkala dalam rangka memenuhi panggilan Nya melalui perut hamba...

Sodaqallahul adhim...







No comments:

Post a Comment

 

Blogger news

Blogroll

About