Pages

4/21/15

Pembalut

Jean mendaki tumpukan sampah dengan berlari, disusul kawanan anjing. Dari kejauhan, tempat pembuangan akhir ini terlihat seperti bukit-bukit kecil di kaki gunung Himalaya. Anjing-anjing mengendus kesana kemari, Jean dengan stik golf yang patah mengoyak tumpukan sampah di depannya.

"Apa yang kau cari anak muda?", Pak Hebres datang memikul sekarung sampah.

"Ini penting bagiku Pak", Jean cuma menoleh lalu menjawab singkat.

"Benar, bagiku pun begitu. Apa yang dibuang orang lain, jika masuk ke area ini, jadi penting bagiku", Pak Hebres terkekeh.

"Eh ngomong-ngomong, dapat dari mana seragam Marinir yang kau pakai itu?", Tanya Pak Hebres sambil duduk di karung menikmati sekaleng Bir.

"Ceritanya panjang Pak", Jean menjawab singkat lalu berenang di lautan sampah.

Pak Hebres menggeleng kepala sambil tersenyum kecil, sesekali memejamkan mata seakan menembus dimensi dimana ia dapati dirinya masih muda.

Anjing-anjing mulai kacau, berebut tulang-belulang. Jean marah, dilemparnya dengan stik golf. Anjing diam, Pak Hebres tertawa, Jean terus mencari dan tenggelam semakin dalam di lautan sampah.

"Bilang saja, apa yang kau cari, biar kubantu anak muda!", Pak Hebres menawarkan dengan nada mengayun bagai penyanyi jazz dengan cengkok ala meksiko.

"Tenang saja, punggungku masih sekuat baja", Jean masih terus mencari.

Anjing-anjing pun juga bisa capek, satu-per-satu dari anjing-anjing itu mulai duduk santai menjulurkan lidah dengan nafas yang menggebu. Pak Hebres tertidur di tumpukan kardus, menutup wajahnya dengan topi koboi kesayangannya.

Matahari akan terbenam sebentar lagi, tapi jean seakan tak bisa hidup tanpa barang yang dicarinya itu. Anjing-anjing pun tidur di buai alunan nada dengkuran Pak Hebres.

Malam datang, gelap menjelang, Jean membuat perapian kecil dari kumpulan sampah kering yang dimasukan tong. Kali ini Jean baru bisa menghela nafas, meminum bir, dan melihat bulan. Udara malam makin menusuk, Jean masih memikirkan sampah yang ia cari. Satu-satunya barang yang masih menyisakan aroma perawan Diane, gadis yang baru tiba di desanya dua hari yang lalu, dan langsung ia cintai, dan hilang begitu saja setelah peluru brutal kelompok pemberontak tak sengaja melintas di dada kiri Dianne. Saat itu Jean hanya mampu melihat, setelah tubuhnya diseret oleh para pejuang untuk sembunyi di Bungker bersama penduduk yang lain. Paginya, Jean menghampiri rumah tempat Dianne menginap. Tak ada satupun orang yang ia kenal, kecuali Klav, seorang pemabuk berat yang selalu konsisten untuk tetap mabuk tiap hari.

"Klav, apa kau tau Dianne? gadis yang baru datang kemarin pagi?", Jean berbisik di kepala Klav yang semakin berat menempel di meja teras.
"Tak ada yang disisakan oleh pemberontak, kecuali pembalut di gunung sampah", Klav ngelantur sambil memicingkan mata yang sayu dan berat ke arah Jean.
"Baiklah, ini buatmu", Jean meletakkan bir di genggaman Klav lalu meniup peluit anjing.

Jean tertidur dikelilingi anjing-anjingnya mengitari perapian. Pak Hebres terbangun karena ada pembalut yang tertiup angin jatuh di wajahnya, setelah menerbangkan topi koboinya.

"Waktunya bekerja lagi, selamat pagi semesta". Pak Hebres memungut karung di sampingnya lalu meninggalkan gunung sampah.

No comments:

Post a Comment

 

Blogger news

Blogroll

About