Pages

12/25/14

Pulang Ke Tanah Sorga

25 Desember 2014


Ada yang merayakan Natal.
Ada juga yang merayakan hari Ulang Tahun Komunitasnya.

Ada yang berlibur, karena bagi seorang karyawan, minggu ini ada moment libur panjang yang bisa dimanfaatkan untuk bertemu dengan keluarga bagi mereka para perantau.

Ada pula yang sedang sibuk dengan tugas kuliahnya.

Ada yang tak merasakan apapun, karena baginya tiap hari itu sama saja, tak ada yang istimewa.
Terasa datar, hambar, dan biasa saja.

Ya, itulah yang dirasakan Jhon. Seorang imigran gelap dari Negara Luar, yang ikut ke kapal kontainer berisi buku-buku bekas dan pakaian bekas untuk diselundupkan di Indonesia, dengan dalih membantu korban bencana alam dan berhasil mengelabuhi petugas di dermaga bahwa sebenarnya kontainer itu berisi Bir kemasan botol kecil. Tapi, sebelum sampai dermaga di sebuah kepulauan kecil di Indonesia, kapal itu tertangkap basah oleh Petugas patroli laut dan akhirnya di bakar-tenggelamkan. Para awak kapal dievakuasi dan dipulangkan ke Negaranya, Kecuali Jhon. Ia berhasil mencapai pulau dengan berenang. Kemampuan berenang ini nampaknya tidak dimiliki oleh banyak orang, karena ia dulu seorang Agen Rahasia yang bertugas membunuh orang-orang kaya pemilik kapal pesiar saingan bisnis Juragan si Jhon, lebih tepatnya pembunuh bayaran dengan Advance Skill. Ia bosan dengan pekerjaan lamanya. Dan juga menjadi benci setengah mati karena ia harus kehilangan calon istrinya yang sengaja di culik oleh Juragan Jhon karena di misi terakhir Jhon tidak berhasil melenyapkan targetnya. Target terakhir Jhon berhasil lolos dan berhasil menjebloskan Juragan Jhon dan Mafia yang lain. Kecuali Jhon, lagi-lagi ia berhasil kabur karena target terahir Jhon adalah Sepupunya sendiri.

17 Agustus 2014

Malam itu, Jhon bersama dua pembunuh bayaran yang masuk team untuk misi terakhirnya berhasil memasuki kapal. Tapi ketika mereka berpencar, dua orang dari mereka tewas karena pengawalan yang ketat. Dan Jhon berhasil menembus sampai ke kamar pemilik kapal itu.

"Jhon, kau kau itu?", Patrick berkata lirih karena sebuah pistol di todongkan dikepalanya.

Jhon menurunkan pistolnya dan berdiri kaku.
"Ternyata kau masih mengenaliku", jawab Jhon sambil menghela nafas panjang.
"Mana mungkin aku bisa lupa, tak ada yang bisa menyamai luka di mata kirimu.", Patrick berdiri sambil memegang kedua bahu Jhon.
Luka itu memang unik, sodetan pisau melintasi mata kiri Jhon sampai ke bibirnya.
"Maafkan aku Patrick,  semua ini terjadi begitu saja."

Terdengar suara tembakan dari kamar patrick. Jhon menghilang.



28 Oktober 2014

"Jauh sekali rumahmu, tau begini aku panggil taxi saja Ra!", Jhon bersandar pada batu besar di dekat sungai sambil ngos-ngosan napasnya.
"Ayolah, baru tiga jam berjalan aja udah ngeluh, dasar lelaki macam apa kau ini!", Ejek Elmira lirih di telinga Jhon.

Mereka berdua berusaha menuntaskan pelarian dari kejaran orang kiriman ayah Elmira yang tidak setuju hubungan mereka berdua. Mereka sedang menuju rumah Elmira yang dibelinya lima tahun yang lalu tanpa sepengetahuan keluarganya, Ra senang sekali tempat ini karena udara yang sejuk dan suasana yang tenang satu jam sebelum masuk ke Pegunungan Kii di dekat Yoshino kota kecil di utara Nanyo.

"Sebentar saja Ra, aku butuh istirahat. Timah panas masih bersarang di kaki kiriku.", Jhon mengeluh lagi dan lamat-lamat ia tak sadarkan diri.

"Jhon! Bangun!", Ra panik melihat Jhon yang tiba-tiba terjatuh lunglai di tanah.

*bersambung*



No comments:

Post a Comment

 

Blogger news

Blogroll

About