Pages

9/25/14

Surat AlfaBetha



Apha: 
Apa yang kusampaikan kepadamu bukanlah hal baru; sudah berulang kali kusampaikan di masa lalu.

Betha:
Apa maksudmu dengan masa lalu? Kapan?

Alpha:
Dari masa ke masa, di setiap masa.Sesungguhnya kita semua telah berulang kali lahir dan mati, aku mengingat setiap kelahiran dan kematian. Kau tidak, itu saja bedanya. Setiap kali keseimbangan alam terkacaukan, dan ketakseimbangan mengancam keselarasan alam, maka “Aku” menjelma dari masa ke masa, untuk mengembalikan keseimbangan alam. “Aku” ini bersemayam pula di dalam dirimu, bahkan di dalam diri setiap makhluk hidup, segala sesuatu yang bergerak maupun tak bergerak. Menemukan “Sang Aku” ini merupakan pencapaian tertinggi. Dengan menemukan jati diri, Sang Aku Sejati, segala apa yang kau butuhkan akan kau peroleh dengan sangat mudah. Berkaryalah dan Keberadaan akan membantumu.

Betha:
Apa ini penggalan dialog antara Kresna dan Arjuna yang dikenal sebagai Bhagavat Ghita?

Alpha:
Apapun yang kau lakukan, lakukanlah dengan kesadaran!

Betha:
Baiklah, anggap saja kau yang jadi Kresna, dan aku Arjuna. Silahkan berbicara, biar aku yang mendengar.

Alpha:
Lakoni hidupmu seolah kau sedang melakukan persembahan. Berkarya dengan penuh kesadaran, itulah Pengabdian.

Betha:
Ini nasehat atau sebuah perintah?

Alpha:
Untuk itu hendaknya kau berendah hati. Orang yang sadar tidak pernah bingung. Pandangannya meluas, penglihatannya menjernih, ia yakin dengan apa yang dilakukannya, Sehingga meraih kedamaian yang tak terhingga nilainya.


Betha:
Bila Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri merupakan tujuan hidup, maka untuk apa melibatkan diri dengan dunia? Aku sungguh tambah bingung.


Alpha:
Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri memang merupakan tujuan tertinggi. Namun, kau harus berkarya untuk mencapainya. Dan, berkarya sesuai dengan kodratmu. Bila kau seorang Pemikir, kau dapat menggapai Kesempurnaan Diri dengan cara mengasah kesadaranmu saja. Bila kau seorang Pekerja, kau harus menggapainya lewat Karya Nyata, dengan menunaikan kewajibanmu, serta melaksanakan tugasmu.
Dan, kau seorang Pekerja, kau hanya dapat mencapai Kesempurnaan Hidup lewat Kerja Nyata. Itulah sifat-dasarmu, kodratmu. Sesungguhnya tak seorang pun dapat menghindari perkerjaan. Seorang Pemikir pun sesungguhnya bekerja.

Betha:
Sampean jangan memojokkan saya yang seorang pengangguran ini, selain malu, saya juga akan merasa terbebani dengan kata-kata sampean. Emang sampean kerja apa?

Alpha:
Bila pikiran masih melayang ke segala arah, apa gunanya duduk diam dan menipu diri?
Lebih baik berkarya dengan pikiran terkendali. Bekerjalah tanpa pamrih! Hukum Sebab Akibat menentukan hasil perbuatan setiap makhluk hidup. Tak seorang pun luput darinya, kecuali ia berkarya dengan semangat menyembah.

Betha:
Setiap saya bertanya mbok ya dijawab dulu, ealah ngenes banget aku ketemu sampean.

Alpha:
Alam Semesta tercipta “dalam” semangat Persembahan. Dan, “lewat” Persembahan pula segala kebutuhan manusia terpenuhi. Bila kau menjaga kelestarian lingkungan, lingkungan pun pasti menjaga kelestarianmu.
Raihlah kebahagiaan tak terhingga dengan saling “menyembah” – membantu dan melindungi.

Betha:
Kok malah ngelunjak tho. Sok tau sampean! Gak jadi Arjuna yawes kalo kayak kamu gini Kresnanya! Saya ini jelas-jelas sudah bahagia sebelum ketemu sampean. ya paling tidak pas dapet makanan gratis.

Alpha:
Bila kau hanya berkarya demi kepentingan pribadi, tak pernah berbagi dan tak peduli terhadap alam yang senantiasa memberi; maka seseungguhnya kau seorang maling. Berkaryalah dengan semangat “menyembah”.
Persembahkan hasil pekerjaanmu pada Yang Maha Kuasa. Dan, nikmati segala apa yang kau peroleh
dari-Nya sebagai Tanda Kasih-Nya! Apa yang kau makan, menentukan kesehatan dirimu. Dan, makanan berasal dari alam sekitarmu.


Betha:
Oh, sampean menghina saya ya? Untuk makan sendiri saja saya susah kok disuruh memberi!!! Kalau mau saya dengerin ocehan sampean, kasi makan saya dulu deh kalau gitu! Katanya disuruh berbagi.... mana?

Alpha:
Bila kau menjaga kelestarian alam, kesehatanmu pun akan terjaga – inilah Kesadaran.
Waspadai setiap tindakanmu. Bertindaklah dengan penuh kesadaran.Inilah Persembahan, yang dapat mengantarmu pada Kepuasan Diri. Bila kau puas dengan diri sendiri, dan tidak lagi mencari kepuasaan dari sesuatu di luar diri, maka kau akan berkarya tanpa pamrih.

Betha:
Ealah, saya ini lagi ngomong sama batu apa sama bolot ya? Tak bacok tenan sampean nek kayak gini terus!

Alpha:
Sesungguhnya tak ada sesuatu yang harus “Ku”-lakukan. Namun, “Aku” tetap bekerja demi Keselarasan Alam. Bila “Aku” berhenti bekerja, banyak yang akan mencontohi tindakan-“Ku”, dan “Aku” akan menjadi sebab bagi kacaunya tatanan masyarakat. Ketahuilah bahwa segala sesuatu terjadi atas Kehendak-Nya.
Tak seorang pun dapat menghindari pekerjaan, kau akan didorong untuk menunaikan kewajibanmu.
Maka, janganlah berkeras kepala – bekerjalah!

Betha:
Yee... gitu aja marah... Iya, maaf deh.. jangan galak gitu to mas.. aku cuma becanda kok... Eh, punya rokok mas? Bagi donk...

Alpha:
Para bijak berkarya sesuai dengan sifat mereka, kodrat serta kemampuan mereka. Demikian mereka terbebaskan dari rasa gelisah, dan mencapai kesempurnaan hidup. Berkaryalah sesuai dengan kemampuan serta kewajibanmu. Janganlah engkau sekadar ikut-ikutan memilih suatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan sifat dasarmu, tidak sesuai dengan kemampuanmu.

Betha:
Duh, dicuekin lagi. Yaudah... ehem
Aku memahami semua itu, namun kadang tetap saja terpicu untuk melakukan sesuatu yang tidak tepat.
Bagaimana mengatasi hal itu?


Alpha:
Ketahuilah terlebih dahulu penyebabnya - yaitu “keinginan”, “ketamakan” dan sifat dasar manusia yang membuatnya bekerja. Manusia tak dapat berhenti bekerja. Bila ia tidak bekerja tanpa pamrih, Ia akan bekerja untuk memenuhi keinginannya. Ketamakan melenyapkan kesadaran manusia, akhirnya ia binasa terbakar oleh api nafsunya sendiri. Kunci keberhasilan manusia terletak pada pengedalian diri. Bila terkendali oleh pancaindera kau pasti binasa. Ketahuilah bahwa panca indera mengendalikan raga, namun pikiran menguasai pancaindera.

Betha:
Duh, elok tenaaaan... Copas darimana mas? Sampean cocok jadi motivator kayaknya... Koyo kaum inTELEK pisan... hahaha

Alpha:
Di atas pikiran adalah intelek, kemampuanmu untuk membedakan tindakan yang tepat dari yang tidak tepat – itulah Kesadaran. Bertindakalah sesuai dengan kesadaranmu. Dengan pengendalian diri dan bekerja sesuai dengan kesadaran, segala keinginan dan ketamakan dapat kau lampaui. Kemudian setiap pekerjaan menjadi persembahan pada “Sang Aku” yang bersemayam dalam diri setiap makhluk.

Betha:
Daritadi ngomongnya sodar-sadar melulu, sampean itu ngelindur to? Wong dari tadi ngomong kok nunduk terus, mbok sesekali menatap mata saya, biar saya yakin kalau sampean itu waras!

Alpha:
Kau berbicara seperti seorang bijak, namun menangisi sesuatu yang tak patut kau tangisi. Seorang bijak sadar bahwa kelahiran dan kematian, dua-duanya tak langgeng. Jiwa yang bersemayam dalam diri setiap insan, sungguhnya tak pernah lahir dan tak pernah mati. Badan yang mengalami kelahiran dan kematian
ibarat baju yang dapat kau tanggalkan sewaktu-waktu dan menggantinya dengan yang baru. Perubahan adalah Hukum Alam – tak patut kau tangisi.


Betha:
Ed Dobol tenan sampean! Kalau saja saya tidak kegerebek satpol PP pasti saya gak ketemu asu kayak kamu! Duh apes tenan, kok bisa saya ini masuk penjara yang ada wong edan koyo ngene.

Alpha:
Suka dan duka hanyalah perasaan sesaat, disebabkan oleh panca-inderamu sendiri ketika berhubungan dengan hal-hal di luar diri. Lampauilah perasaan yang tak langgeng itu. Temukan Kebenaran Mutlak
di balik segala pengalaman dan perasaan. Kebenaran Abadi, Langgeng dan Tak Termusnahkan.
Segala yang lain diluar-Nya sesungguhnya tak ada – tak perlu kau risaukan. Temukan Kebenaran Abadi Itu,
Dia Yang Tak Terbunuh dan Tak Membunuh. Dia Yang Tak Pernah Lahir dan Tak pernah Mati Dia Yang Melampaui Segala dan Selalu Ada. Kau akan menyatu dengan-Nya, bila kau menemukan-Nya. Karena, sesungguhnya Ialah yang bersemayam di dalam dirimu, diriku, diri setiap insan. Maka, saat itu pula kau akan terbebaskan dari suka, duka, rasa gelisah dan bersalah.

Betha:
Terserah mas... Terserah mau ngomong apa! aku sudah lelah dengan semua ini!

Alpha:
Kebenaran Abadi Yang Meliputi Alam Semesta, tak terbunuh oleh senjata seampuh apapun jua. Tak terbakar oleh api, tak terlarutkan oleh air, dan tidak menjadi kering karena angin. Sementara itu, wujud-wujud yang terlihat olehmu muncul dan lenyap secara bergantian. “Keberadaan” muncul dari “Ketiadaan” dan lenyap kembali dalam “Ketiadaan”. Jiwa tak berubah dan tak pernah mati; hanyalah badan yang terus-menerus mengalami kelahiran dan kematian. Apa yang harus kau tangisi?

Betha:
Paaaak... Tolong keluarkan saya dari sini paaak!!! Atau bunuh saja saya!! daripada harus mendengar orang gila ini ngoceeh!

Alpha:
Lakukan tugasmu dengan baik. Berkaryalah demi kewajibanmu. Janganlah membiarkan pikiranmu bercabang, bulatkan tekadmu, dan dengan keteguhan hati, tentukan sendiri jalan apa yang terbaik bagi dirimu. Berkaryalah demi tugas dan kewajiban, bukan demi surga, apa lagi kenikmatan dunia. Janganlah kau merisaukan hasil akhir, tak perlu memikirkan kemenangan maupun kegagalan. Dengan jiwa seimbang,
dan tak terikat pada pengalaman suka maupun duka, berkaryalah dengan penuh semangat!

Betha:
Duh gusti... saya ini cuma copet tapi tidak tiap hari gusti.... tolong ampuni hamba gusti... cabut nyawa saya sekarang gusti... hukumanmu kali ini lebih berat gusti.... ocehan orang gila ini sungguh menyiksaku gusti...

Alpha:
Bebaskan pikiranmu dari pengaruh luar; dari pendapat orang tentang dirimu, dan apa yang kau lakukan.
Ikuti suara hatimu, nuranimu.

Betha:
Bebas ndasmu! kita ini sedang dalam kurungan! ngomong bebas kok sama saya! ayo gelut wae mas! dah habis kesabaran saya!

Alpha:
Bebas dari segala macam keinginan dan pengaruh pikiran, kau akan mendengarkan dengan jelas suara hatimu – itulah Pencerahan! Saat itu, kau tak tergoyahkan lagi oleh pengalaman duka, dan tidak pula mengejar pengalaman suka. Rasa cemas dan amarah pun terlampaui seketika.

Betha:
Kayaknya saya yang gila, ngomong sama batu kayak kamu. TERSERAH! saya mau tidur dulu!

Alpha:
Ia yang tercerahkan tidak menjadi girang karena memperoleh sesuatu; tidak pula kecewa bila tidak memperolehnya. Dirinya selalu puas, dalam segala keadaan. Pengendalian Diri yang sampurna
membuatnya tidak terpengaruh oleh pemicu-pemicu di luar. Ia senantiasa sadar akan Jati-Dirinya.

Betha:
Ya, saya sadar saya harus tidur buat ngadepin kamu! ngomong sama bokong saya saja!

Alpha:
Keterlibatan panca-indera dengan pemicu-pemicu di luar menimbulkan kerinduan, kemudian muncul keinginan. Dan, bila keinginan tak terpenuhi, timbul rasa kecewa, amarah. Manusia tak mampu lagi membedakan tindakan yang tepat dari yang tidak tepat.

Betha:
Bodoamat! Saya dah tidur!

Alpha:
Seorang bijak yang tercerahkan terkendali panca-inderanya, maka ia dapat hidup di tengah keramaian dunia,
dan tak terpicu oleh hal-hal diluar diri. Demikian dengan keseimbangan diri, ia menggapai kesadaran yang lebih tinggi. Jiwanya damai, dan ia pun memperoleh Kebahagiaan Kekal Sejati. Pengendalian Diri menjernihkan pandangan manusia, ia menggapai kesempunaan hidup. Saat ajal tiba, tak ada lagi kekhawatiran baginya,i a menyatu kembali dengan Yang Maha Kuasa.

Betha:
Sebahagiamu! Aku gak mau tau!

Alpha:
Mas, mbok ya jangan marah gitu... jangan dendam sama saya.. wong kita ini jadi begini ya memang ditulis kayak gini e... saya cuma manut saja sama penulisnya...

Betha:
Lho, jadi daritadi kamu denger saya tho?

Alpha:
Lhayo jelas to mas.. wong cuma ada kita berdua disini..

Betha:
BODOAMAT!

Alpha:
Ealah, kok ya saya ini ditulis jadi bijak kayak Kresna gini to... Padahal saya ini juga gak tau saya ini siapa, datang darimana, kok tiba-tiba muncul disini..

Betha:
Oh.. baru tau ya? kasian!

Alpha:
MAS!!!

Betha:
APA!?

Alpha:
Sudahi semua ini...

Betha:
Ya ngomong sana sama yang nulis!





No comments:

Post a Comment

 

Blogger news

Blogroll

About