Pages

9/22/14

Membelah Samudra Filsafat (2)

Lanjutan dari Tulisan sebelumnya

4. Gejala Mengerti.

Dari gejala yang muncul dari "mengerti" ini akan segera muncul gejala yang lain, seperti yang sering disebut orang dengan "kebenaran". Jika pengetahuan yang seseorang miliki memang benar-benar sesuai dengan hal yang ia ketahui, maka dapat dikatakan pengetahuan itu benar. Pengetahuan yang benar itu pengetahuan yang sesuai dengan obyeknya. Maka dapat diketahui kalau "kebenaran" itu : 'persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya'. Itulah sebabnya maka kebenaran itu disebut pula dengan 'Obyektivitas'.

Gejala lain yang muncul oleh hal 'mengerti' ialah :  orang tau (mengerti), bahwa ia tau.

Yang jelas benar : orang seringkali tau, bahwa ia tidak tau atau salah mengerti : jadi pengetahuan itu tak ada, atau walaupun ada pengetahuan, tetapi tidak sesuai dengan obyeknya. Jika kemudian dicapai persesuaian karena ada penyelidikan lebih lanjut - jika sudah hilang kesalah-pahamannya itu - maka akhirnya taulah ia, bahwa ia tau.

Demi sebuah pengetahuan dan terpuaskan hasrat untuk mengerti, seseorang akan dan harus berusaha sedemikian rupa guna memperluas dan semakin memperdalam pengertiannya atau pengetahuannya. Semakin dalam pengetahuan seseorang, maka semakin dalam pula tingkat kepuasan yang didapat.

Jadi bisa dikatakan bahwa "mengerti" itu menjadi sifat utama dari manusia. Sesuai dengan nama "filsafat", ada kecocokan dengan sifat mengerti ini, maka harus diterima bahwa nama yang diberikan orang kepada hal yang kita selidiki ini, memang memiliki kemungkinan sesuai dengan isi dari hal yang diberi nama itu.

Gejala lain yang nampak ialah, obyek mengerti itu. Apa yang hendak dimengerti manusia? Apa saja. Segala yang ada dan bahkan yang mungkin ada. dengan kata lain obyek mengerti ialah : Ada dan yang mungkin ada.

No comments:

Post a Comment

 

Blogger news

Blogroll

About