Pages

9/21/14

Membelah Samudra Filsafat (1)


1. Pendahuluan
Ada orang yang berkata, bahwa manusia harus berfilsafat untuk tau apa itu Filsafat. Mungkin ini benar, tapi yang jadi pertanyaan adalah : Bagaimana ia tau, bahwa ia berfilsafat? Mungkin ia mengira sudah berfilsafat dan tau apa itu Filsafat. Tapi, sebenarnya ia sama sekali tidak berfilsafat. Jadi, ia memang salah dan dengan sendirinya sangkaan tentang filsafat menjadi salah.

Akan tetapi, mengapa kita ingin dan atau harus tau apa yang disebut Filsafat? Sedangkan jika orang (berilmu) lain tidak/kurang menghiraukan tentang "apa" ilmu yang diselenggarakan itu. Mungkin karena orang segera mengira bahwa ia tau apa yang dimaksud ilmu-ilmu itu. Mungkin juga karena dalam Filsafat banyak sekali pendapat yang simpang siur tentang "apa"-nya itu, sehingga orang menjadi ingin tau apakah sebenarnya itu. Ini memang dapat dibenarkan. Lagi pula, bagi orang dewasa, baik jugalah rasanya untuk mengetahui benar-benar apa yang hendak dilakukan.

2. Pembatasan Nama
Berangkat dari nama "filsafat" itu sendiri, barangkali kita dapat mengetahui sedikit tentang apa itu Filsafat. Adapun kata Filsafat itu sendiri merupakan kata dari bahasa Yunani yang berasal dari dari kata : Filosofia. Dalam bahasa Yunani, kata Filosofia merupakan kata majemuk yang terdiri dari filo dan sofia. Filo berarti 'cinta' dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu "Ingin dan karena ingin itu, lalu berusaha mencapai yang diingini itu". Sofia artinya 'kebijaksanaan'. Bijaksana inipun kata asing, yang berarti : pandai (mengerti dengan mendalam). Jadi, menurut nama-nya, Filsafat bisa dimaknai : 'ingin mengerti dengan mendalam' atau 'cinta kepada kebijaksanaan'. RUmusan ini bolehlah dijadikan suatu definisi atau pembatasan. Tapi, pembatasan ini semata-mata berdasarkan atas keterangan nama, maka pembatasan ini disebut pula pembatasan nama. Maka pembatasan nama dari filsafat ialaha : 'ingin kepada kebijaksanaan'.

Pembatasan nama ini mungkin sudah menunjukan sedikit hal atau isi yang mempunyai nama itu. Akan tetapi kita tau, bahwa nama terkadang menunjuk sesuatu yang amat sedikit kaitannya dengan nama itu. Bahkan, seringkali tak ada kaitannya dengan nama itu sendiri, misalnya 'mata sapi' dalam hal ini sering kata ini digunakan untuk menunjuk sebuah makanan yang terbuat dari telur.

3. Mengerti
Maka dari itu, sebelum kita berani menjelajahi apa itu 'Filsafat' dengan sunguh-sungguh sesuai isinya, ada baiknya kita mulai dari bagian nama yang boleh jadi terasa agak penting dan mudah dipahami,
yaitu : 'mengerti'. Mengerti atau lebih baik ingin mengerti itu memang menjadi sifat manusia. Tidak taulah binatang itu dapat atau ingin mengerti, bukanlah soal dan pengalaman kita sekarang. Yang jelas : manusia sungguh-sungguh ingin dan berusaha mengerti; jika ia mengerti, maka puaslah ia.

Dari kecil, jika ia mulai bisa berbincang, dapat memaparkan isi kalbunya dengan kata, maka akan timbul bermacam-macam pertanyaan : Mengapa begitu, mengapa begini, apa ini dan apa itu, misalnya. Semakin jauh jalan pikirannya, makin banyak yang dipertanyakan, makin pandai, makin banyak pula usaha untuk mengerti. Kepuasan orang jadi besar jika ia mencapai alasan/dasar dari semua pertanyaan, sebab atau keterangan yang begitu dalamnya, sehingga ia boleh dikatakan mengerti hal yang diketahui itu dengan sebenar-benarnya, sedalam-dalamnya : ia mencakup keseluruhan hal yang diketahui itu dengan sepenuhnya dan tak perlu lagi ia bertanya.



(berlanjut...)





Note :

No comments:

Post a Comment

 

Blogger news

Blogroll

About