Pages

8/7/14

Logika Anak-Anak

Dalam kehidupan kita sehari-hari sering kali kita harus membuat suatu keputusan. Dari keadaan yang kita hadapi diperlukan kemampuan bernalar. Kemampuan bernalar adalah kemampuan untuk menarik konklusi yang tepat dari bukti-bukti yang ada. Kemampuan bernalar sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena merupakan sumber dari sebagian besar pengetahuan kita. Menarik konklusi adalah proses untuk dapat sampai pada sesuatu yang sebelumnya belum diketahui. Logika membicarakan kegiatan pemikiran secara lengkap beserta prosesnya menuju arah kebenaran, membicarakan susunan konsep dan segala sesuatu yang menyangkut berbagai seluk-beluk kegiatan pemikiran. Ada 2 (dua) bentuk metode berfikir yang logika induktif (umum) dan logika matematika deduktif (khusus).

Nah, apakah hal ini berlaku bagi anak-anak?

Menurut pendapat Piaget (seorang ahli psikologi) anak mempunyai masalah jika tidak mampu menjelaskan apa yang dia cari maupun apa yang dia lakukan untuk mencari jawaban. Proses pemikiran tidak sepenuhnya membingungkan, boleh jadi anak hanya ingin sedikit sekali istilah dalam pemikiran sehingga ia harus menggabungkan beberapa hal dan memilih hal apa yang terbaik untuk dilakukan. Dan tentu saja dia harus mempelajari seluruh proses mulai dari pertanyaan sampai dengan jawabannya.

Kemudian apakah introspeksi memungkinkan ? Menurut Piaget bahwa anak diatas umur 7 tahun, intropeksi sudah terpenuhi namun di umur 7 sampai 12 tahun ada usaha yang lebih konsisten, dalam hal berfikir dia lebih konsisten, dalam hal berfikir dia lebih sadar akan dirinya. Dilihat dari sudut kesiapannya, anak-anak yang umurnya kurang dari 7 tahun biasanya tidak mampu untuk menganalisa proses pemikiran. Anak pada tingkat ini sebaiknya diberi masalah yang membutuhkan proses pemikiran yang logis. Guru harus merencanakan prosedur pada anak didiknya sesuai dengan pemikirannya.

Proses pemikiran anak tidak sepenuhnya pada tingkat sadar, ini berarti bahwa anak akan mengalami kesulitan dalam mendefinisikan generalisasi yang sesuai dengannya. Menurut Piaget sebagai berikut : Dari sudut pandang psikologi, definisi dari pengertian kesadaran dari seseorang yaitu membuat suatu kata atau konsep di dalam proses berpikir. Tetapi anak mendapatkan kesulitan dalam memahami pemikirannya sendiri (introspeksi). Contoh : Anda meminta untuk menjelaskan suatu obyek pada anak seperti “sendok” atau “ibu”. Jika obyeknya dijelaskan dengan lengkap maka anak akan mudah memahaminya.

“Sendok adalah alat untuk makan”.

Tanyakan pada anak usia 5 sampai 7 tahun apakah hujan itu ? Secara fisik anak tidak tahu apa itu hujan tetapi dari sudut pandang definisi logis bahwa hujan adalah air yang jatuh dari langit. Pada bagian ini akan dipelajari mengenai tindakan pencegahan terhadap rencana pemikiran pada anak terhadap hal-hal yang dapat mengacaukan pemikiran mereka. Anak tidak dapat membedakan antara konsep dan obyek.

Pada usia 7 sampai 8 tahun mulai membedakan pemahaman dari hal-hal yang berhubungan dengan kesadaran atau proses pemikiran. Dia mulai menggunakan definisi logis seperti “ibu adalah wanita dengan anak-anaknya”. Pemikiran semacam ini tidak sampai pada anak usia 11 atau 12 tahun karena berbagai macam pertimbangan pemikiran seperti “semua ibu adalah wanita” atau semua wanita belum tentu ibu dan “semua orang dengan anak-anaknya belum tentu ibu”.

Beberapa anak ketika ditanya dengan hati-hati memberi bukti bahwa mereka mempunyai konsep tentang pemikiran diri sebagai suatu definisi tetapi hanya berkata “ini bergerak”.

Piaget menyimpulkan bahwa banyak anak belum sepenuhnya sadar akan pemikiran mereka sendiri dan sampai anak berumur 11 tahun atau 12 tahun atau ketika anak hampir menyelesaikan sekolah dasar, dan kapan anak dapat memberikan definisi yang lengkap.

Dari beberapa contoh diatas pemikiran anak berbeda dengan pemikiran orang dewasa. Hal ini merupakan tantangan bagaimana caranya untuk menemukan berbagai metode anak dapat berpikir.

Terdapat sedikit hubungan antara pemahaman verbal dan pemikiran oprasional yang dapat diketahui pada anak yang mempunyai hambatan pada bahasa tetapi tidak bermasalah dalam hal kecerdasan dan juga pada anak-anak yang mempunyai hambatan oprasional dan tidak mempunyai masalah linguistik.

Jika dengan pemahaman struktur maka penggunaannya tidak akan memadai, hal ini dikarenakan pada usia 4 tahun faktor bahasa akan membatasi pada pemikiran operasionalnya.

Karena kata-kata biasanya bukanlah hasil dari suatu pemahaman anak-anak sering digunakan untuk mengindikasikan tingkat anak dalam berpikir logis. Anak yang terlalu muda, saat ditanya tentang arti sebuah kata, mungkin dengan mudah menunjukkan bahasa tubuh secara verbal.

Sebagai contoh “Ibu”dengan mudah ia menunjuk. Kemudian “ibu” dijelaskan dengan istilah dia sendiri. Definisi secara lengkap mengenai pemikiran logis adalah suatu yang tidak dapat diharapkan dari anak-anak yang usianya di bawah 11 tahun sampai 12 tahun. Anak-anak tidak akan mencapai tingkat hipotesis deduktif dari pemikiran logis yang abstrak hingga anak berusia 12 tahun.

Kalimat-kalimat terbuka sehingga bagi yang belum selesai akan mulai dengan kata sambung yang digunakan secara logis seperti karena, oleh karena itu, sejak, kemudian sebagai contoh :

  •     Saya tidur karena……………
  •     Robi naik kelas karena………..
  •     Anjing itu berhenti menggonggong karena………


Kata sambung seperti “karena” atau “oleh karena itu” digunakan untuk menunjukkan sebab akibat dan juga menunjukkan hubungan logika. Ide dari hubungan itu penting dan mendasar, satu dalam logika dan ilmu matematika karena hubungan antara ide-ide itu berkembang dari logika.

Kata sambung “karena” adalah hubungan sebab dan akibat antara 2 kejadian contoh : “Laki-laki itu jatuh dari sepeda (akibat) karena seorang menghalangi jalannya”. Kata sambung “karena” juga berwakili bukan sebab dan akibat tetapi implikasi atau logika. Ini merupakan logika dari implikasi dimana kita tertarik khususnya. Dalam arena aritmatik, anak-anak diminta oleh Piaget untuk melengkapi kalimat berikut. “setengah dari 5 bukan 2 karena……”, kalimat ini bisa dilengkapi dengan benar “setengah dari 5 bukan 2 karena 2 ditambah 2 adalah 4”.

Untuk menjelaskan mengapa setengah dari 5 bukan 2, kita harus mengambil jalan untuk sebuah definisi dan hubungan yang bukan hubungan sebab antara dua peristiwa. Ini adalah hubungan logika termasuk ketika kita bicara, “setengah dari 5 bukan 2 karena………” jika kita mendefinisikan secara berubah-ubah 2 tambah 2 menjadi 4 maka setengah dari 4 adalah 2, dan setengah dari 5 pasti sesuatu yang lebih karena 4 dan 5 itu tidak sama. Dalam usaha menganalisa kesulitan anak-anak mencoba membangun hubungan yang benar untuk mengidentifikasi arti yang dihubungkan dengan sebuah kata sambung seperti, karena. Contoh :

  •     Dia tertawa karena…………….
  •     Ibu mencuci pakaian karena……….
  •     Adik mencuci kaki karena ……….

Pada umur berapa kegunaan logika berkembang ? pada umur beberapa anak-anak bisa melengkapi kalimat yang menunjukkan beberapa logika ?. Piaget menyelidiki pertanyaan ini dengan 180 anak dalam rata-rata usia 7 sampai 9 tahun, menggunakan 2 pendapat.

Anak-anak sejauh mereka egosentris percaya bahwa orang lain selalu mengetahui apa yang mereka pikirkan dan alasan mereka untuk melakukannya, dengan kata lain mereka selalu percaya pada diri sendiri untuk dimengerti secara lengkap. Sebelum kesimpulan memiliki sebuah tantangan yang penting bagi guru. Kata sambung “oleh karena itu” menyertakan lebih dari hubungan sebab dari sebuah pengambilan kesimpulan.

Contoh : “Rumput itu basah oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa hari hujan”. Oleh karena itu sering digunakan dalam bukti formal.

Dalam mempelajari penggunaan kata “oleh karena itu” sebagai hubungan dari implikasi atau konsekuensi, Piaget menyimpulkan bahwa di luar dari 30 anak antara 6 dan 9 tahun yang kita uji perorangan tak seorangpun membuktikan kemampuannya dalam menggunakan “oleh karena itu” baik dengan cara yang jelas maupun dengan menghasilkan hubungan khusus yang diindikasikan oleh orang dewasa yang menggunakan bentuk tersebut.

No comments:

Post a Comment

 

Blogger news

Blogroll

About