Pages

3/17/16

Surah Cahaya

Di masyarakat yang telah dewasa
Wanita yang memakai jilbab
karena aqidah Surah Cahaya
Diberi ruang untuk mementaskan hak asasinya

Wanita yang memakai jilbab karena arus budaya
Ditemani untuk menemukan kesejatiannya
Disirami sebagai bunga kehidupan
Yang mewakili keharuman Penciptanya

Dan wanita yang memakai jilbab
Karena kapok oleh keburaman masa silamnya
Dilindungi dan disantuni
Dalam semangat husnul khotimah

Adapun mereka yang belum memakai jilbab
Tak dikutuk atau dihardik
Melainkan dicintai
Dengan kearifan dan mau'idhah hasanah

Juga kepada mereka yang menolak jilbab
Orang tersenyum dan berkata:
Makin banyak wanita melepaskan pakaian
Makin agung makna kain penutup badan.

Dalam : "Syair Lautan Jilbab"
Oleh : Emha Ainun Nadjib

3/16/16

Merawat Rahasia

Wanita yang memamerkan pahanya
Hendaklah jangan tersinggung
Kalau para lelaki memandanginya
Sebab demikianlah hakekat tegur sapa

Siapa ingin tak menyapa tak disapa
Tinggallah di bilik yang tertutup pintunya
Sebab begitu pintu dibuka
Orang berhak mengetuk dan memasukinya

Maka dengan menonjolkan auratnya
Wanita memberi hak kepada lelaki siapa saja
Untuk menatapi bendah indah suguhannya
Serta membayangkan betapa nikmat rasanya

Hendaklah wanita punya rasa sayang
Kepada ratusan lelaki di sepanjang jalan
Dengan tidak menyodorkan godaan
Yang tak ada manfaatnya kecuali untuk dipandang

Adapun lelaki, sampai habis usia
Hanya bisa berkata: Betapa indah wanita!
Maka bantulah ia merawat rahasia
Yang hanya boleh dikuakkan oleh istrinya.


Dalam : "Syair Lautan Jilbab"
Oleh : Emha Ainun Nadjib

3/15/16

Cahaya Aurat

Ribuan jilbab berwajah cinta
Membungkus rambut, tubuh sampai ujung kakinya
Karena hakekat cahaya Allah
Ialah terbungkus di selubung rahasia

Siapa bisa menemukan cahaya?
Ialah suami, bukan asal manusia
Jika aurat dipamerkan di koran dan di jalanan
Allah mengambil kembali cahayaNya

Tinggal paha mulus dan leher jenjang
TInggal bentuk pinggul dan warna buah dada
Para lelaki yang memelototkan mata
Hanya menemukan benda

Jika wanita bangga sebagai benda
Turun ke tingkat batu derajat kemakhlukannya
Jika lelaki terbius oleh keayuan dunia
Luntur manusianya, tinggal syahwatnya.


Dalam : "Syair Lautan Jilbab"
Oleh : Emha Ainun Nadjib

3/14/16

Bahasa Kambing Hitam

Seseorang, dari beribu jilbab, berkata
Bicaralah dengan bahasa badan!
Sunyi belum sempurna. Ini dunia nyata
Tabir belum dikuakkan
Hijab belum disingkap seluruhnya
Ruh tak bicara kecuali hanya kepada dirinya
Bicaralah dengan bahasa badan
Dengan bahasa kehidupan yang bersahaja
Perhitungan sejarah belum selesai
Ini bukan Mahsyar, padang sunyi senyap
Bicaralah dengan bahasa keringat
Bahasa got dan selokan
Dusun-dusun suram dan sawah ladang
Yang entah siapa sekarang pemiliknya
Anak-anak antri cari sekolah dan kerja
Dendam kepada kesempitan, terusir dan tertepikan
Pasar yang sumpeg, dikangkangi monopoli
Jilbab-jilbab bertaburan tidak di langit tinggi
Melainkan di bumi, tanah-tanah becek
Teori pembangunan yang aneh
Kemajuan yang menipu
Jilbab-jilbab terserimpung di kubangan sejarah
Melayani cinta palsu dan kecurigaan
Cekikan yang samar
Dan tekanan yang tak habis-habisnya
Jilbab-jilbab dikambinghitamkan
Bicaralah dengan bahasa kambing hitam!


Dalam : "Syair Lautan Jilbab"
Oleh : Emha Ainun Nadjib

3/13/16

Badan Hanya Alatku

Aku ruh tunggal
Aku tiga puluh enam
Mewadahi sembilan puluh sembilan
Aku hati rohani
Aku hati nurani
Aku hati robbani
Aku hati sanubari
Aku akal
Aku hati batini
Aku jiwa
Aku sukma
Aku nyawa
Aku nafsu
Aku Sir, rahasia
Aku Jufi, rongga
Aku Shudur, dada
Aku Qalbi
Aku Fuad
Aku Syaghafa
Aku Insa
Aku sembunyi
Aku lelembut qalbi
Aku lelembut ruh
Aku lelembut sir
Aku lelembut khafi
Aku lelembut akhfa
Aku lelembut nathiqa
Aku lelembut kullujasad
Aku nurullah
Aku dzatullah
Nur sifaullah
Nur ismullah
Aku lelembut robbaniyah ruhaniya
Aku lembar kertas kalimatullah
Aku meja syahadatullah
Aku cermin tajalli
Kerja Allah
Pemantul wajhullah
Kaca ruhullah
Danau dzatullah
Aku muthmainnah
Aku ammarah
Aku lawwamah
Badan hanya alat
Badanku medan perang
Badanku menanggung
Duka hayya 'alal falah
Musuh menikam dari dalam jantung
Kutindih di bawah gunung Jabbar Qahhar
Penindas tinggal di usus
Penindas merobek usus
Kucampakkan ke kakus
Berhala menggumpal di aliran darah
Menjadi planet-planet mati
Kutetesi dengan ma-ullah
Sepanjang siang dan malam hari.



Dalam : "Syair Lautan Jilbab"
Oleh : Emha Ainun Nadjib

3/12/16

Imanmu Batu

Mereka berkata: kau tak mengerti
Sudah pasti kau tak mengerti
Karena sudah lama
Pergi dari diri sendiri
Hidup makan batu
Sejarah membangun batu
Peradaban menyanyikan batu
Imanmu batu
Tidurmu permata batu
Ketika bangun buta matamu
Tak melihatku di kandunganmu
Tak melihat aku di ruh tunggalmu.


Dalam : "Syair Lautan Jilbab"
Oleh : Emha Ainun Nadjib

3/11/16

Berperan di Bumi

Aku berperan di bumi
Berendam di kolam-kolam dunia
Sambil menatap cakrawala

Siapakah aku?
Jangan cari di kolam
Lacaklah ke cakrawala

Aku ruh tunggal
Namaku beragam
Petakku tigapuluh enam

Jumlah sejuta
Hanya bisa dihitung oleh angka satu
Karena satu berjuta jumlahnya

Lihatlah lendir peradaban
Tulang belulang sejarah
Mulai kukuburkan

Aku belajar memenuhi ruang
Belajar mengatasinya
Merdeka darinya

Merdeka dari waktu
Aku tak menapak
Di titian hukum waktu

Kekal abadi
Sebelum dan sesudah
Tanpa sekarang dan nanti

Aku belajar tegak di sini
Tak kau awali tak kau akhiri
Usia ruh di atas langit dan bumi.


Dalam : "Syair Lautan Jilbab"
Oleh : Emha Ainun Nadjib
 

Blogger news

Blogroll

About